Issue 66November 2, 2026  Ringkasan Harian |
 Photo by Jonathan Gong on Unsplash Iran dan Mediator Qatar Memasuki Hari Ketiga Perundingan Perang dengan AS Delegasi Iran dan mediator Qatar melanjutkan pertemuan selama tiga hari sebagai upaya diplomatik untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat. reuters.com 1 Nov 2026
IRGC Navy Laporkan Dua Kapal Tanker Meledak Setelah Menabrak Ranjau Angkatan Laut IRGC menyatakan ledakan terjadi setelah kedua kapal tanker menabrak ranjau di jalur strategis Hormuz. reuters.com 1 Nov 2026
Rusia dan Ukraina Laporkan Serangan Siber pada Aplikasi Peringatan Darurat Kementerian Situasi Darurat Rusia menyebut kejadian itu sebagai serangan siber besar-besaran, sementara Ukraina melaporkan peringatan palsu dikirim melalui aplikasinya. bbc.com 2 Nov 2026
|
|
 Photo by Jesse Collins on Unsplash Serangan Israel di Gaza menewaskan delapan orang Rumah sakit melaporkan lima petugas polisi yang dikelola Hamas tewas di Khan Younis, sementara tiga orang, termasuk seorang anak, tewas di Gaza City. bbc.com 1 Nov 2026
|
|
 Photo by Andres Garcia on Unsplash Ekspor Korea Selatan Hampir Berlipat Ganda pada Oktober karena Investasi AI Kenaikan ini mencerminkan penguatan permintaan terkait kecerdasan buatan, menurut laporan Reuters mengenai kinerja perdagangan negara tersebut. reuters.com 1 Nov 2026
Wall Street Bersiap Menghadapi Perombakan Besar Penjualan Treasury Menteri Keuangan Scott Bessent mengejutkan para dealer dengan kesiapan mengintervensi pasar obligasi untuk menurunkan imbal hasil dalam beberapa bulan terakhir. bloomberg.com 1 Nov 2026
Penguatan Lapangan Kerja AS Dapat Menjaga Rencana Kenaikan Suku Bunga Fed Pekan ini menghadirkan serangkaian data ketenagakerjaan yang berpuncak pada laporan pekerjaan bulanan BLS pada Jumat. bloomberg.com 1 Nov 2026
|
|
 Photo by NASA on Unsplash Perkembangan paling penting hari ini adalah bahwa negara-negara Teluk makin khawatir serangan AS berikutnya akan memicu balasan Iran yang lebih keras di seluruh kawasan, termasuk jalur energi dan infrastruktur strategis, menurut Bloomberg. Ini penting karena menunjukkan bahwa krisis sudah melampaui konflik bilateral: pusat gravitasi kini ada pada risiko eskalasi regional, dengan monarki Teluk berupaya menahan perang agar tidak merusak stabilitas keamanan dan pasokan minyak global. Dalam tren yang lebih luas, Timur Tengah sekali lagi bergerak di bawah logika “pencegahan melalui ancaman” — diplomasi tetap berjalan, tetapi di bawah bayang-bayang kalkulasi militer yang bisa mengguncang pasar energi dan keamanan internasional jauh di luar kawasan.
|
|
For information only, not investment advice. AI generated. |